Resensi buku novel “Harry Potter and The Half Blood Prince”

 

 

Category: Other
RAHASIA DIBALIK KEAJAIBAN HARRY POTTER

Judul Buku : Harry Potter and the Half-Blood Prince
Pengarang : J. K. Rowling
Penerbit : Bloomsbury / Gramedia
Cetakan ke I : 2005
Tebal : 607 hal
Peresensi : Lutfi Fadila

Menulis novel berseri untuk menjadikannya digemari semua orang tiap kali peluncuran tentu merupakan suatu hal yang sulit sekali diprediksikan. Kadang kala, ketika melihat novel pertamanya laris, seorang pengarang berusaha membuat sekuelnya. Sehingga membuat cerita di novel kedua kurang greget dibandingkan yang pertama. Atau isinya yang itu-itu saja, membuat pembaca menjadi bosan dan enggan membeli.
Di peredaran penerbitan buku tanah air, hanya beberapa pengarang saja yang bisa memuaskan pembacanya dengan novel berseri. Sebut saja Hilman dengan Lupus atau Dee dengan Supernovanya. Bagi pengarang yang sudah mempunyai jam terbang tinggi, mudah saja bagi mereka untuk membuat novel berseri yang akan selalu ditunggu-tunggu. Karena mereka memang telah menciptakan sebuah genre sendiri dan sudah merasuk ke tulang-tulang sumsum penggemarnya.
Untuk novel ber-genre fantasi, J.K. Rowling adalah salah satu pengarang yang tidak diragukan lagi kemampuannya menghipnotis anak-anak hingga dewasa. Novelnya keenam, Harry Potter and the Half-Blood Prince, yang terbit 16 Juli 2005, menduduki peringkat atas penjualan buku dunia dengan angka penjualan lebih dari dua juta exemplar di hari pertama launching. Novel yang mengulas ke-chaos-an dunia sihir tersebut, benar-benar telah menyihir dunia untuk tetap betah mempelajari mantra-mantra sihir dalam buku yang tebalnya mencapai 600 halaman.
Jika ditinjau dalam serial Harry Potter terbaru, Rowling memasukkan banyak ramuan ampuh dalam proses kreatif penulisan novelnya. Ramuan pertama yang membangkitkan semangat untuk membaca adalah menciptakan fiksi fantasi yang bersinggungan dengan alam nyata. Rowling membuat seolah-olah kaum penyihir memang ada dan tersebar disekitar kita tanpa kita sadari. Hal ini membuat pembaca antusias menyihir diri mereka sendiri tentang aktifitas dunia lain yang dekat dengan dunia dimana kita berada. Seperti keantusiasan kita akan keberadaan UFO dan Alien.
Keantusiasan para muggle—sebutan orang-orang selain penyihir—berbeda. Para muggle tidak ingin bersentuhan dengan hal-hal yang berbau sihir karena takut dianggap gila. Contohnya keluarga Dursley dan juga para perdana mentri Inggris yang selalu dihubungi kementrian sihir. Tentu saja perdana mentri yang sedang menjabat terkaget-kaget mendengar Rufus Scrimgeur—pengganti Cornelius Fudge—tentang kegemparan yang terjadi di dunia sihir akibat teror yang dilakukan penyihir hitam Voldemort. Apalagi teror yang berlangsung berimbas pada kecelakaan-kecelakaan misterius yang terjadi di dunia muggle (HP 6, Bab I)
Keadaan saling mempengaruhi antara dunia muggle dan penyihir, membuat cerita Harry Potter lebih misterius daripada cerita yang hanya berlangsung di negeri antah berantah. Pembaca tertarik untuk mereka-reka; jangan-jangan reruntuhan kosong di sebelah rumahnya merupakan persembunyian kaum penyihir, atau tetangganya yang aneh adalah penyihir. Adalah menarik sekali menganggap dunia sihir benar-benar ada.
Cerita serius yang tak kering humor merupakan kelebihan yang kedua. Seperti di kehidupan nyata, sense of humor menjaga suasana agar tidak terlalu mencekam. Rowling mengolah kesalahan-kesalahan kecil akibat kekikukan Ron untuk mencairkan suasana serius saat latihan Quidditch. Guyonan-guyonan ala George dan Fred Weasley di toko lelucon mereka segera mengalihkan ketakutan pengunjung atas kembalinya Voldemort. Salah satunya adalah poster yang dipajang di depan toko mereka:
WHY ARE YOU WORRYING ABOUT
YOU-KNOW-WHO?
YOU SHOULD BE WORRYING ABOUT
U-NO-POO—
THE CONSTIPATION SENSATION
THAT’S GRIPPING THE NATION!
***
MENGAPA TAKUT
KAU-TAHU-SIAPA?
KAU HARUSNYA TAKUT
KAU-GA BISA-BERAK—
RASANYA MULAS BERAT
MEMATIKAN ORANG SEJAGAT!
(HP 6, Bab 6)

Kreatifitas Rowling yang ketiga adalah membuat semua tokoh sama pentingnya. Tokoh utama serial Harry Potter tentu saja Harry Potter yang mengemban tugas vital memburu Voldemort. Selain dia, pengarang juga menciptakan karakter lain yang memiliki kepentingan dan ideologi sendiri. Keberadaan mereka cukup penting dalam membuat plot-plot baru yang akan menentukan keberhasilan petualangan Harry. Seperti keberadaan Ron, Hermione, Ginny dan Hagrid, mereka memiliki masalah sendiri yang harus diselesaikan; baik itu dalam hal pelajaran, keluarga atau cinta. Dari situ akan muncul mata rantai yang menjembatani pemecahan masalah Harry.
Ketika Hagrid meratapi kepergian Aragog—laba-laba raksasa yang muncul di buku kedua—Harry Potter nekat datang menghibur, meski dengan resiko mendapat hukuman karena berkeliaran di malam hari. Bermula dari kesedihan Hagrid ini, Harry bertemu Profesor Slughorn—dosen ramuan yang baru—dan berhasil membujuknya untuk memberikan memori masa lalunya yang terhapus tentang rahasia Voldemort. (Bab 22)
Perpaduan romantisme dengan realisme sebagai ramuan manjur keempat memungkinkan imajinasi problematika dunia penyihir disuguhkan dalam sebuah metafora. Dalam cerita yang serba aneh dan penuh keajaiban itu, pengarang mencoba menuliskan suatu kebenaran tentang dunia nyata; perlakuan buruk terhadap anak yatim piatu, permasalahan di usia remaja, dan juga kelahiran seorang diktator.
Pada buku yang mendekati akhir ini dipaparkan secara jelas sifat-sifat pemimpin kaum penyihir hitam, Voldemort. Hal itu merupakan initial lahirnya seorang tiran. Dia adalah sosok yang haus kekuasaan dan berhasrat menyingkirkan siapa saja yang dianggap membahayakan—termasuk bayi yang masih berumur satu tahun, Harry Potter. Melalui pensieve—kumpulan memori—koleksi Doumbledore, Harry Potter membedah asal-usul keturunan, menganalisis sifat-sifat licik, serta menemukan titik kelemahan Lord Voldemort. (Bab 10, 13, 17, 20, dan 23)
Dengan dijelaskannya sifat-sifat Voldemort yang selalu ingin berkuasa dan menyingkirkan musuh-musuhnya dengan kejam, Rowling menunjukkan sebuah metafora dalam sebuah fiksi anak-anak yang mengangkat tema pertarungan yang baik dan buruk. Dalam metafora yang hadir disini, pengarang ingin menunjukkan proses tumbuh berkembangnya seorang tiran didasarkan pada faktor pembawaan dan juga psikologis. Pengarang juga menunjukkan kelemahan seorang otokrat; dia menciptakan musuh-musuh mereka sendiri yang suatu saat siap membalas dendam.
Sulit ditebak dan penuh kejutan. Seperti novel-novel detektif yang memunculkan misteri dan banyak tersangka; Harry Potter menciptakan banyak kemungkinan dan akhir yang tak disangka-sangka. Bagaimana hal-hal tersebut tidak menggemaskan pembaca untuk segera sampai ke bab akhir?
Kejutan yang hadir pada Harry Potter and the Half-Blood-Prince kali ini adalah ending yang terbuka dan menguras air mata. Harry Potter kehilangan mentor sekaligus panutan yang sangat disegani teman maupun lawan di seluruh dunia penyihir. Tapi bukan J.K. Rowling namanya jika tidak memberikan surprise di balik kejutan.
Rumus yang terakhir adalah menciptakan buku berseri yang utuh. pengarang menciptakan sensasi petualangan yang berbeda di tiap tahun ajaran sekolah. Di akhir ajaran, Harry Potter selalu berhasil menyelamatkan sekolah. Dari masing-masing petualangan yang muncul tiap tahun, ada benang merah yang selalu mengobarkan perseteruan Harry Potter dan Voldemort. Dengan perseteruan yang belum juga berakhir itu, rasa penasaran pembaca di seluruh dunia tidak akan berakhir sebelum membaca seri terakhir Harry Potter—yang rencananya akan selesai di buku ketujuh.
Bagi yang penasaran dengan proses kreatif seorang pengarang sukses, diharapkan penjabaran tentang kelebihan novel karya J.K. Rowling di atas dapat memuaskan. Yang berminat mencontohnya, lakukan saja eksperimen dan eksplorasi ide-ide kreatif dalam membuat sebuah novel yang bermutu. Semoga tak lama lagi akan banyak bertebaran pengarang Indonesia yang dapat disejajarkan dengan pengarang internasional.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: