Lord Voldemort adalah tokoh antagonis ciptaan novelis cantik asal Inggris, J.K. Rowling, dalam serial terkenal Harry Potter. Meski usia yang sudah tidak pantas remaja, saya mengikuti seri ini sejak edisi perdananya diterbitkan Gramedia dan kemudian tak sabar mencari edisi PDF via torrent atau situs bajakan lainnya.

Dan, ketika edisi terakhir terjemahan Indonesia baru terbit Minggu kemarin, saya beruntung sudah menamatkan edisi Inggris, lagi-lagi bajakannya sejak akhir bulan lalu. Lord Voldemort telah mati dibunuh oleh Harry Potter! Demikian ceritanya.

Matinya tokoh yang bernama asli Tom Riddle ini memang tidak sendiri. Pertarungannya diikuti oleh puluhan pengikut kejahatannya, dan juga ditonton oleh puluhan musuhnya, pahlawan yang berjuang membasmi kejahatan yang disebarkan olehnya. Dalam pertarungan satu lawan satu yang mendebarkan itulah, kekuatan tongkat sihir paling sakti di dunia sihir, teryata telah musnah. Setelah tujuh roh ciptaan Voldemort bisa dimusnahkah oleh orang-orang baik di dunia sihir, termasuk oleh Dumbledore, Grindelwald (orang jahat sebelum era Voldemort yang menjadi sadar setelah dikalahkan Dumbledore), dan Harry beserta kawan-kawannya, akhirnya kematian Voldemort sudah final. Kejahatan telah dikalahkan. Manusia dunia sihir bisa hidup normal lagi. Harry Potter dan kawan-kawan akhirnya menikah, punya anak, dan kembali bersekolah.

Saya tidak akan berbicara tentang seri Harry Potter yang benar-benar membuat saya kagum itu. Kita tahu rangkaian cerita, plot, dan cara penyajian cerita serial ini memang menakjubkan menakubkan. Seri 1 menuju seri 7 menunjukkan perkembangan yang menarik tentang tata cara storytelling. Seri 1 memakai bahasa sederhana, lugas, kosakata paling mendasar yang bisa dipahami anak usia 7 tahun. Beranjak ke seri berikutnya, penggunaan bahasa semakin rumit, dan seri 7 benar-benar membuat saya harus bolak-balik lihat kamus istilah. Selain itu, konstruksi cerita terbukti menarik. Dunia sihir menjadi terang benderang dengan alur logis. Semua tentang dunia jahat dan dunia baik. Cinta yang bisa mengalahkan segala angkara murka.

Tom Riddle dilahirkan tanpa cinta murni. Ayahnya, manusia biasa yang tampan, disihir agar mencintai ibunya. Ketika sihir hilang, karena ibunya Tom ingin mempunyai cinta sejati, seketika itulah Riddle tua kabur. Tom lahir, dinista oleh keluarga tuanya. Merana dan kabur dari rumah, ibunya meninggal, Tom kecil dipelihara oleh rumah yatim piatu. Hidup menyendiri. Sering diolok-olok oleh teman-teman karena kemmapuannya yang aneh. Tom kecil sudah merasa ia punya keistimewaan dan menikmati penggunaan sihir-sihir yang tidak disadarinya.

Ketika masuk usia sekolah dan diberitahu untuk masuk sekolah sihir Hogwarts, Tom benar-benar mengetahui nasibnya. Ia akan menjadi orang nomor satu dunia sihir. Dengan segala tipu muslihat, mengumpulkan pengikut-pengikut yang ringan tangan untuk meneruskan aksi kejahatannya dengan membunuh dan menyakiti sesama. Tapi aksinya terhenti tanpa ia tahu sebabnya. Voldemort, nama yang merupakan anagram nama aslinya, mati. Dalam sebuah serangan mematikan untuk membunuh calon musuh bebuyutanya yang diketahui lewat ramalan (seperti para tiran lainnya, mereka memuja dunia mistik), musuhnya seorang bayi dalam dekapan ibunya bernama Harry Potter masih tetap hidup, serangannya sendiri mental dan ia tewas.

Tapi kita tahu, seperti cerita Dumbledore—penyihir hebat yang menelusuri jejak kehidupan Tom dengan seksama, ia telah membagli rohnya menjadi tujuh dan menyimpannya dalam benda-benda gaib dan juga warisan moyang para sihir. Tujuh roh ini diyakininya akan menjamin ia bisa hidup abadi di masa mendatang. Tapi setiap rencana jahat, kita tahu pasti tidak akan abadi. Itulah hikmah yang ingin diutarakan Rowling. Untuk cerita lengkapnya lebih baik Anda baca sendiri buku aslinya.

Ternyata, ketika menelusuri lebih jauh, hampir banyak kesamaan para tiran, diktator, dan orang-orang jahat itu. Mereka penyendiri. Terlalu yakin dengan keutamaan dirinya. Melakukan muslihat licik tanpa malu. Dan, menyukai diikuti pengikutnya dan dipuja dirinya paling mulia. Tapi kita tahu Voldemort tidak mempercayai orang lain, dan ia tidak segan membunuh anak buahnya yang melakukan sedikit kesalahan. Meski begitu, para pengikutnya, seperti pengikut para tiran, memuja dengan segala rupa, mendoakan agar tuannya sehat, dan tidak tahu malu mengajak semua orang memafkan tuannya yang sedang sakit.

Satu hal yang penting, para tiran, dengan otak jahat di pikirannya, menganggap apa yang telah mereka rencanakan itu sempurna. Padahal tidak ada kejahatan yang sempurna. Voldemort membuktikannya. Reformasi 1998 membuktikan ia bisa jatuh. Pengikutnya mengira mereka bisa menutup kejahatan mereka selamanya. Pengikutnya mengira kita akan kasihan sehingga memaafkan tuannya. Pengikutnya berharap kita melupakan kejahatan mereka.

Ya, itu yang terjadi saat ini. Dan kita seperti tertipu, apalagi dengan usaha pemimpin saat ini untuk mengharap kita tidak meneruskan polemik (what the hell?! Padahal saya kira ia sudah maju dengan menyuruh penegak hukumnya bernegoisasi dengan para pengikut tiran itu. Apakah ia menjilat ludah sendiri? Kasihan sekali penegak hukumnya!), lalu berharapkah kita dengan kejahatan yang terlihat semkin merajalela. Pemimpin bisa diganti, dan usaha kitalah mengganti dengan pemimpin yang benar, tegas, tidak takut terhadap kejahatan! Dan, pahamilah kebijaksanaan bahwa, naluri kejahatan lebih banyak menghancurkan dirinya. Apakah kebobrokan akan terungkap dengan sendirinya. Apakah kejahatan mereka membunuh mereka sendiri. Atau, mungkin muncul pahlawan yang menghancurkan kejahatan hingga ke ujung dunia.

Kisah Lord Voldemort di Harry Potter, adalah seperti kisah para tiran lainnya. Tapi ada bedanya, tentu saja. Para tiran cenderung tidak tahu malu untuk berbuat pengecut, culas, atau hal-hal rendah lainnya. Lord Voldemort kejam, tapi ia selalu bangga dengan dirinya yang ia rasa sebagai manusia sihir super. Voldemort segan bertindak culas, meski ia kejam sangat kejamnya. Meski setiap penyihir menantikan kejatuhan Voldemort, namun mereka sangsi apakah makhluk kejam ini bisa mati. Kematian para tiran ditunggu oleh setiap manusia yang baik, tentu saja mereka tahu (bahkan tinggal) menunggu waktu matinya saja.

Kejahatan tidak akan abadi. Gusti Allah mboten sare (Bahasa Jawa: Tuhan tidak tidur). Kejahatan akan menemukan akhirnya (meski kejahatan selalu ada dalam usia kehidupan ini).

OLEH: arifwidi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: